Price for Service
26 Jan 2010
Suatu hari cerah yang senggang, saya memutuskan untuk mengisinya bersama sahabat saya. Kami sepakat untuk berjalan-jalan mengeliligi kota kami. Yah, tentu saja hanya melihat-lihat dan menghabiskan waktu bersama-sama.
Siang pun menjelang, perut-perut kami telah berteriak meminta diisi. Maka, saya dan sahabat-sahabat saya menepikan kendaraan kami di sebuah department store. Kami pun berdebat seru menentukan akan makan dimana.
Pilihan pun jatuh di sebuah restoran yang lumayan ‘wah’ tetapi sepi. Memberanikan diri, kami melangkah dan duduk di pojok. Seorang pelayan mengantarkan daftar menu makanan pada kami dan bertanya dengan sopan,” mau pesan apa?” sambil diiringi dengan senyuman.
Dalam hati saya langsung berbisik, ‘wah sopan sekali pelayan di sini.’ Setelah menentukan pesanan, saya sedikit bingung ‘mengapa sepi sekali?’ Saya pernah mendengarkan kabar berita bahwa harga makanana si restoran ini mahalnya selangit. Tapi saya melihat daftar menu tadi, sama sekali tidak ada makanan yang berharga diatas kisaran rata-rata. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan?
Sungguh saya terpesona pada pelayanan yang diberikan oleh pelayan-pelayan restoran ini. Mereka begitu sopan, lemah lembut, penuh perhatian, tutur katanya baik, dan pokoknya almost perfect. Saya dan sahabat-sahabat saya sungguh merasa seperti putri-putri yang dilayani oleh dayang-dayangnya. Kami terlena oleh pelayanan mereka semua.
Higga tibalah waktu meninggalkan tempat itu. Dengan sedikit berat hati, saya melangkah menuju kasir. Meninggalkan tempat duduk empuk saya. Saya dan sahabat-sahabat saya berdiri di depan kasir. Menunggu bon pembayaran yang harus kami bayar.
Namun hal yang paling mengagetkan terjadi saat itu. Setelah menerima bon pembayaran itu, sahabat saya langsung terlonjak kaget. Kok bisa total harga yang harus kami bayar mencapai lebih dari Rp 100.000,00?? Padahal kami juga telah menotalnya sendiri dan memperoleh hasil melenceng jauh dari harga tersebut.
Segera saja, saya dan sahabat-sahabat saya menggumpulkan uang untuk membayarnya hingga meraba-raba kantong dan dompet kami yang terdalam. Untung saja, uang yang kami bawa cukup untuk membayarnya.
Di luar restoran, saya meneliti bon pembayaran tersebut. Alangkah terkejutnya hati saya melihat bagian terbawah dari bon itu yang menuliskan:
Fax 5% Rp X.000,-
Service 10% Rp XX.000,-
Total Rp XXX.000,-
Oh yang benar saja. Uang yang dikeluarkan untuk membayar jasa pelayanan alias servis rersoran itu mencapai 10% nya. Sungguh saya sangat terkejut. Begitu mahalnya harga sepaket pelayanan. Pantas saja, mereka melayanani dengan sangat sopan dan berbudi luruh. Wong service yang mereka berikan berharga begitu mahal.
Dalam hati saya menjerit, ‘pantas saja dibilang mahal. Harga makanan ditambah pajak 5% aja udah mahal apalagi ditambah dengan bayar biaya pelayanan sebesar 10%.’
by Wardah 0 tanggapan
Thank You
3 Des 2009
Sering kali kita meminta pertolongan orang lain
Sering kali kita merepotkan orang lain
Sering kali kita menyusahkan orang lain
Sering kali kita ditolong oleh orang lain
Dan sering kalo kita melupakan sesuatu ...
Kita terlalu sering lupa mengucapkan 'terima kasih'
Benar. Kita terlalu sering melupakan ucapan sepele yang sebenarnya sangat penting itu. Terima Kasih adalah bentuk penghargaan terkecil kita untuk orang lain. Terima Kasih menunjukan bahwa kita menghargai batuan orang lain. Stephen R. Covey (2007) dalam bukunya “Everyday Greatness” menyatakan, “Terima kasih berkaitan erat dengan integritas dan kerendahan hati seseorang.”
Padahal, ucapan terima kasih adalah hal terudah dan termurah untuk diamalkan. Tapi, mengapa kita sering kali melupakannya? Apakah mengucapkan terima kasih itu berdosa?? Atau mungkin dipungut biaya? Tentu tidak!
Saya pernah berbelanja disebuah departemen store di kota saya. Ada sebuah papan yang menggugah hati saya. Papan itu selalu ada di meja kasir. Isinya:
Jika pegawai kami tidak mengucapkan terima kasih,
Anda dapat mengambil satu bungkus mie goreng sebagai gantinya.
Lihat! Betapa dunia marketing mendewa-dewakan ucapan yang sering kita lupakan itu. Betapa pentingnya ucapan itu bagi mereka. Tapi, mengapa kita sering melupakannya??
Apakah keegoisan kita terlalu besar untuk menghargai jasa orang lain? Apakah kita mahluk tidak beradap yang bahkan membalas pertolongan orang lain hanya denagn mengucapkan dua kata itu begitu susahnya? Apakah kita sama sekali tidak dapat menghargai bantuan orang lain?
Kita telah sering merepotkan, meyusahakan dan menggangu orang lain. Dan orang lain telah terlalu sering membantu, meluangkan waktu, menolong kita. Apakah kita bisa membalas jasa orang lain dengan perbuatan yang setimpal? Tidak. Cukup ucapkan terima kasih.
Ucapan terima kasih itu akan membuat hati orang lain yang menolong kita menjadi bahagia. Mereka yang membantu kita akan merasa dihargai atas bantuan mereka. Mereka yang bahkan awalnya merasa berat meluangkan waktunya untuk membantu kita akan merasa rela dan ikhlas.
Mereka yang telah membantu kita, yang telah meluangkan waktunya untuk kita, yang mungkin pada awalnya tidak mau membantu kita akan merasa bahagia saat kita mengucapkan terima kasih. Kita tidak bisa membalas jasa mereka tapi, kita dapat menghargainya hanya dengan dua patah kata saja. Lalu mengapa tetap saja begitu susahnya bagi kita untuk mengatakannya?
Sungguh, ucapan terima kasih adalah hal yang begitu mempesona. Jadi, janganlah lupa untuk senantiasa mengucapkan terima kasih. Dimana saja dan kapan saja!
by Wardah 0 tanggapan
Langganan:
Postingan (Atom)
