skip to main | skip to sidebar

watashi wa...

Foto Saya
Wardah
hanya seorang cewek yang tidak seperti cewek kebanyakan, kenapa? Karena bertingkah tidak feminim, lalu cuek, moody, weird, menyebalkan, pendiem (?), dan dapat diungkapkan melalui kalimat "mengalir seperti air dan bebas seperti angin" (kayaknya)
Lihat profil lengkapku

arsip-arsip...

  • ▼ 2010 (1)
    • ▼ Januari (1)
      • Price for Service
  • ► 2009 (1)
    • ► Desember (1)

cari di sini...

LInk desu...

  • tempat Shanster nongkrong
  • another blog

The Forgotten Spot

a place for me... a place for the forgotten...

Price for Service

26 Jan 2010








Suatu hari cerah yang senggang, saya memutuskan untuk mengisinya bersama sahabat saya. Kami sepakat untuk berjalan-jalan mengeliligi kota kami. Yah, tentu saja hanya melihat-lihat dan menghabiskan waktu bersama-sama.

Siang pun menjelang, perut-perut kami telah berteriak meminta diisi. Maka, saya dan sahabat-sahabat saya menepikan kendaraan kami di sebuah department store. Kami pun berdebat seru menentukan akan makan dimana.

Pilihan pun jatuh di sebuah restoran yang lumayan ‘wah’ tetapi sepi. Memberanikan diri, kami melangkah dan duduk di pojok. Seorang pelayan mengantarkan daftar menu makanan pada kami dan bertanya dengan sopan,” mau pesan apa?” sambil diiringi dengan senyuman.

Dalam hati saya langsung berbisik, ‘wah sopan sekali pelayan di sini.’ Setelah menentukan pesanan, saya sedikit bingung ‘mengapa sepi sekali?’ Saya pernah mendengarkan kabar berita bahwa harga makanana si restoran ini mahalnya selangit. Tapi saya melihat daftar menu tadi, sama sekali tidak ada makanan yang berharga diatas kisaran rata-rata. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan?

Sungguh saya terpesona pada pelayanan yang diberikan oleh pelayan-pelayan restoran ini. Mereka begitu sopan, lemah lembut, penuh perhatian, tutur katanya baik, dan pokoknya almost perfect. Saya dan sahabat-sahabat saya sungguh merasa seperti putri-putri yang dilayani oleh dayang-dayangnya. Kami terlena oleh pelayanan mereka semua.

Higga tibalah waktu meninggalkan tempat itu. Dengan sedikit berat hati, saya melangkah menuju kasir. Meninggalkan tempat duduk empuk saya. Saya dan sahabat-sahabat saya berdiri di depan kasir. Menunggu bon pembayaran yang harus kami bayar.

Namun hal yang paling mengagetkan terjadi saat itu. Setelah menerima bon pembayaran itu, sahabat saya langsung terlonjak kaget. Kok bisa total harga yang harus kami bayar mencapai lebih dari Rp 100.000,00?? Padahal kami juga telah menotalnya sendiri dan memperoleh hasil melenceng jauh dari harga tersebut.

Segera saja, saya dan sahabat-sahabat saya menggumpulkan uang untuk membayarnya hingga meraba-raba kantong dan dompet kami yang terdalam. Untung saja, uang yang kami bawa cukup untuk membayarnya.

Di luar restoran, saya meneliti bon pembayaran tersebut. Alangkah terkejutnya hati saya melihat bagian terbawah dari bon itu yang menuliskan:

Fax                   5%                   Rp     X.000,-
Service             10%                 Rp   XX.000,-
Total                                        Rp XXX.000,-

Oh yang benar saja. Uang yang dikeluarkan untuk membayar jasa pelayanan alias servis rersoran itu mencapai 10% nya. Sungguh saya sangat terkejut. Begitu mahalnya harga sepaket pelayanan. Pantas saja, mereka melayanani dengan sangat sopan dan berbudi luruh. Wong service yang mereka berikan berharga begitu mahal.

Dalam hati saya menjerit, ‘pantas saja dibilang mahal. Harga makanan ditambah pajak 5% aja udah mahal apalagi ditambah dengan bayar biaya pelayanan sebesar 10%.’

by Wardah 0 tanggapan    

Labels: Diary, Reality, Renungan

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod

Work under CC License

Creative Commons License